Bluetooth® vs. Nirkabel
Bluetooth® (Nirkabel) pertama kali dicetuskan pada tahun 1990-an, tetapi menjadi umum di akhir tahun 2000-an dan memasuki tahun 2010-an dengan munculnya ponsel pintar. Sejak saat itu, teknologi ini telah menyebar ke berbagai perangkat pintar, dan menjadi cara bagi banyak orang untuk memainkan musik ke headphone, speaker, atau sistem media mereka karena kemudahannya. Namun, teknologi ini baru menjadi relevan di dunia audio profesional relatif baru-baru ini, dan itupun untuk tujuan penggunaan yang cukup spesifik seperti pada PA & mixer.
Audio nirkabel untuk para pemain musik tidak banyak berubah, dengan sinyal analog UHF yang merupakan gelombang transmisi umum di era modern, dan nirkabel digital menjadi protokol yang jauh lebih spesifik untuk memungkinkan integrasi dengan teknologi Bluetooth.
Jadi apa perbedaan antara Bluetooth dan bentuk audio nirkabel yang lebih “tradisional”, dan apa kelebihan dan kekurangan masing-masing ?

Bluetooth : Pro dan Kontra
Kekurangan utama pertama Bluetooth, dan alasan mengapa Bluetooth baru mulai muncul belakangan ini di bidang audio profesional, dapat ditunjukkan dengan mengajukan pertanyaan umum oleh kebanyakan orang yang baru mengenal bidang ini : mengapa mikrofon nirkabel Bluetooth kelas profesional belum ada ?
Nah, untuk memulai, Bluetooth pada dasarnya adalah protokol digital, dan audio digital mengandung data yang jauh lebih banyak daripada yang diperkirakan kebanyakan orang. Bahkan sistem nirkabel digital tradisional biasanya memiliki latensi yang jauh lebih tinggi daripada sistem analognya.
Namun hal ini menimbulkan pertanyaan yang baru : lalu mengapa hal ini muncul di dunia pro-audio ?
Nah, sebagai permulaan, Bluetooth berfungsi lebih dari sekadar suara. Bluetooth menawarkan protokol nirkabel umum yang terstandarisasi untuk menghubungkan ke perangkat pintar. Artinya, perangkat apa pun yang mendukung Bluetooth dapat terhubung ke perangkat pintar lain yang mendukung Bluetooth (seperti ponsel pintar atau tablet). Bluetooth juga menghindari interferensi karena memiliki rentang frekuensi 2,4 GHz untuk menjaga koneksi tetap bersih dalam jarak pendek. Hal ini menjadikan Bluetooth sangat baik untuk mengontrol pengaturan pada perangkat tertentu.
Faktor utama lainnya yang membuat streaming audio secara Bluetooth semakin umum adalah semakin lazimnya musisi yang manggung menggunakan perangkat pintar untuk memutar “latar-belakang musik” sebagai selingan di antara penampilan. Dalam hal ini, latensi menjadi tidak penting, karena mereka akan bereaksi terhadap musik yang keluar dari speaker, alih-alih berbicara ke mikrofon agar penonton dapat mendengarnya dengan jelas. Inilah yang mendorong munculnya adaptor Bluetooth seperti Stage BR1X, karena adaptor ini memungkinkan cara yang lebih mudah untuk terhubung ke mixer atau PA dan menambahkan kemampuan Bluetooth yang sebelumnya tidak ada.

Nirkabel Traditional : Pro dan Kontra
Meskipun Bluetooth terus menyebar ke dunia audio profesional, teknologi nirkabel yang lebih tradisional masih ada dan tidak hanya digunakan, tetapi juga diinovasi. Mengapa demikian ? Pertama-tama, teknologi ini mengurangi latensi hingga dua digit milidetik agar layak untuk transmisi audio real-time (biasanya di bawah 50 ms). Inilah yang menjadi dasar sebagian besar mikrofon nirkabel dan monitor in-ear, karena perangkat tersebut harus beroperasi cukup mendekati waktu nyata (real-time) agar para penampil dapat bereaksi terhadap apa yang mereka dengar (atau tidak kehilangan keselarasan dalam bermain dengan rekan band mereka).
Sistem nirkabel tradisional, yang pada dasarnya dibangun berdasarkan transmisi radio, memiliki jangkauan yang tidak dimiliki Bluetooth. Perangkat Bluetooth rata-rata memiliki jangkauan operasi sekitar 30 meter dalam kondisi ideal secara line-of-sight. Sistem seperti Samson Concert XD2 memiliki jangkauan tiga kali lipat pada jarak 90 meter secara line-of-sight, jauh melampaui protokol Bluetooth. Selain itu, sistem analog seperti Concert 99 dapat diperluas dengan menggunakan antena BNC tambahan (atau menggunakan ekspansi jangkauan yang disetel ke frekuensi yang tepat) untuk memperluas jangkauan tersebut di tempat dan ruang yang lebih besar.
Namun, teknologi ini juga memiliki kekurangan. Meskipun beberapa teknologi transmisi relatif murah (seperti mikrofon nirkabel XPDm & Stage dari Samson), bahkan dibandingkan dengan sistem kelas profesional seperti Concert 88 atau XD2), biaya produksinya masih jauh lebih mahal daripada Bluetooth, sebagian karena komponennya dirancang khusus untuk setiap sistem nirkabel, bukan sekadar chipset Bluetooth standar.
Sistem-sistem ini juga harus menghadapi interferensi, terutama di rentang frekuensi analog. Jika suatu sistem nirkabel analog ditransmisikan pada frekuensi yang sama dengan sistem lain, paling banter akan terjadi crosstalk, dan paling buruk, interferensi sinyal destruktif yang dapat membuat kedua sinyal dari sistem tersebut akan saling meniadakan (bertabrakan) saat keduanya aktif. Meskipun sebagian besar sistem saat ini cenderung memilih fleksibilitas jangkauan frekuensi (seperti sistem Concert 88 & 99 yang telah disebutkan sebelumnya), hal ini tidak selalu menjadi solusi jika terdapat terlalu banyak noise pada spektrum EM (Electro Magnetic), dan oleh karena itu perlu direncanakan dengan matang saat melakukan tour (untungnya, sistem digital cerdas tidak terlalu rentan terhadap masalah ini, dan Concert XD2 yang telah disebutkan sebelumnya beroperasi di pita 1.9 GHz yang sebagian besar kosong untuk menghindari masalah ini sepenuhnya).
Jadi apa arti semua ini ?
Teknologi Nirkabel apa pun memang rumit, tetapi memahami berbagai protokol nirkabel yang ada akan memastikan anda memahami mengapa industri audio memanfaatkan protokol-protokol tersebut sebagai teknologi yang relevan untuk perlengkapan audio di tempat yang relevan. Mengetahui kekuatan dan keterbatasan Bluetooth dan pengaturan nirkabel yang lebih tradisional akan membantu anda untuk menentukan sistem mana yang dibutuhkan untuk memastikan performa dan suara terbaik.
***